Dua Pramugari Mengaku Dibius Pilot, Satu Diperkosa

Dua orang pramugari maskapai JetBlue mengajukan gugatan hukum karena mengaku dibius oleh pilot saat singgah di Puerto Rico. Salah satu dari mereka mengalami pelecehan seksual.

Kedua penggugat yang diketahui bernama “Jane Doe nomor satu” dari Riverton, negara bagian Utah, dan “Jane Doe nomor 2” dari Fort Worty, negara bagian Texas, mengatakan dua pilot dalam salah satu penerbangan JetBlue diduga memberikan bir yang dicampur obat-obatan, sebelum salah satu korban diperkosa selama singgah di Puerto Rico pada Mei 2018.

Gugatan yang diajukan pada hari Senin itu juga mengklaim bahwa pilot sengaja menularkan penyakit menular seksual pada Jane Doe nomor satu, demikian sebagaimana dikutip dari NBC News pada Jumat (22/3).

Dikatakan pula bahwa kedua penggugat, bersama dengan rekan perempuan ketiga, tiba di San Juan –ibu kota Puerto Rico– setelah bertugas dalam penerbangan dari Washington DC pada bulan Mei lalu, dan melanjutkan check-in ke hotel yang disediakan, sebelum kemudian pergi ke pantai.

Para kru dijadwalkan meninggalkan Puerto Rico menuju Newark, negara bagian New Jersey, hari berikutnya pada 10 Mei 2018.

Masing-masing korban mengatakan bahwa mereka sedang duduk di tepi pantai ketika dua laki-laki, yang diketahui sebagai pilot JetBlue, datang menawarkan bir kaleng yang sudah dibuka. Penggugat mengatakan minuman itu telah dicampur dengan obat bius.

Insiden pelecehan seks diduga kuat dilakukan di waktu-waktu tersebut. Jane Doe nomor satu mengatakan dirinya tidak bisa mengingat apapun karena dibius, dan ketika dia bangun, dia menyadari telah diperkosa oleh pilot yang memberinya bir.

Setelah pilot ini diduga melakukan pelecehan seks terhadap Jane Doe nomor satu, ia juga diduga memperkosa anggota kru perempuan ketiga, yang tidak ikut dalam gugatan tersebut.

Pilot terkait kemudian diduga mengatakan: “Terima kasih telah membuat fantasi saya menjadi kenyataan.”

Adapun Jane Doe nomor dua, dalam gugatan yang sama, mengatakan tidak sampai diperkosa karena tersadar lebih cepat dan ditinggal begitu saja di tepi pantai.

Secara keseluruhan, gugatan hukum itu diajukan untuk menyoroti penyalahgunaan dan penyerangan yang diduga terjadi selama pesawat JetBlue terkait singgah di Puerto Rico, sekaligus menandai kegagalan maskapai untuk menanggapi keluhan.

Lebih dari itu, gugatan tersebut juga sebagai pengingat bahwa kejadian di Puerto Rico telah melanggar undang-undang terhadap diskriminasi jenis kelamin, diskriminasi gender, pelecehan seksual, dan gangguan pada lingkungan kerja.

Namun, hingga saat ini, JetBlue belum mau memberikan tanggapan hukum terhadap gugatan di atas, kecuali mengatakan akan serius menyelidiki klaim terkait secara menyeluruh.

“Kami berupaya menciptakan lingkungan kerja yang penuh hormat untuk semua kru, di mana mereka merasa disambut dan aman,” kata perusahaan itu.

JetBlue juga enggan menanggapi pertanyaan tentang tindakan disipliner seperti apa untuk kedua pilot yang diduga terlibat kasus pelecehan seksual terkait.

Persatuan pilot dunia, Air Line Pilots Association (ALPA), mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Karena ini adalah gugatan aktif, ALPA tidak dapat mengomentari insiden tertentu. Namun, pilot JetBlue saling berpegang pada standar perilaku profesional tertinggi untuk memastikan keselamatan, keamanan, dan kesejahteraan anggota awak dan penumpang.”

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *